Buku yang berjudul para pembunuh Tuhan ini bagi sebagian orang bisa berbahaya.
Karena menurut mereka ini mengarah ke kafir.
seperti kata guru saya, jangan pernah melihat buku dari sampulnya atau dari judulnya saja lihatlah isinya.
saya mencoba membacanya sampai habis akhirnya saya mendapatkan sesuatu yang amat sangat luar biasa dibuku ini.
Kalian pasti sudah tahu siapa yang mengatakan got it's tot. Ya benar sekali dia adalah Nietzsche beliau adalah seorang filsuf Jerman yg bernama lengkap Friedrich Wilhelm Nietzsche. Dia lahir di Saxony, Prussia pada tanggal 15 Oktober 1844 dan meninggal di Weimar, 20 Agustus 1900 di usia 55 tahun. Selain sebagai filsuf, Nietzsche juga seorang ahli ilmu filologi yg meneliti teks2 kuno, kritikus budaya, penyair, dan komposer. Dia menulis beberapa teks kritis terhadap agama, moralitas, budaya kontemporer, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Dia merupakan salah seorang tokoh pertama dari eksistensialisme modern yg ateistik.
Dalam buku ini, Setyo Wibowo berfokus pada topik “Tuhan itu Mati”, dimana Nietzsche menjadi pencetus kalimat tersebut.
Sehingga judul buku ini pun ditulis dengan kalimat “Para Pembunuh Tuhan”.
Manusia adalah binatang pemuja”, kata Nietzsche dalam La Gaya Scienza. Jika pujaan dalam bentuk Tuhan mati, manusia akan mencari pujaan-pujaan lainnya termasuk dirinya sendiri.
Manusia butuh pujaan, butuh sesuatu di luar dirinya untuk dijadikan pegangan. Jika pegangan dalam bentuk Tuhan mati, pegangan dalam bentuk lain bermunculan: sains, ideologi, kepercayaan lain, bahkan atheisme. Nietzsche mengungkapkan ada kepercayaan baru yg namanya “ketidakpercayaan”. Jika Tuhan pujaannya mati, jika tidak ada pegangan lain, bisa saja ia mengimani ketiadaan Tuhan dengan sepenuh hati: “Tuhan tidak ada”, demikian credo imannya.
Di awal pembahasan ini saya setuju dengan penjelasannya Nietzsche. Bukan setuju karena Tuhan sudah mati, tapi saya setuju pada penjelasan bahwa manusia sebagai makhluk pemuja, jika manusia tidak memiliki Tuhan untuk dipujanya; ia akan mencari hal lain untuk nantinya menjadi pujaannya.
Pujaan lain bisa saja berupa Tuhan yg lain (Tuhan agama lain), menciptakan Tuhan atau aliran atau kepercayaan sendiri, atau bisa juga berupa idola lain seperti wanita, harta, pendidikan, selebriti, dan sebagainya. Saya adalah seseorang yang menganut agama. Jadi saya lebih memilih untuk mengidolakan Tuhan saya sebagai pegangan saya, dibandingkan harus memuja hal lainnya.
mereka yang masih saja mengasumsikan bahwa berhala itu adalah patung-patung yang disembah sungguh terlambat lahir.
Dunia ini berhala,ekonomi berhala,pacar berhala,dosen di kelas berhala, bahkan ada yang memberhalakan dirinya sendiri
Berhala itu kita bangun sendiri atas nama cinta,
Dan cinta membuat kita bergantung padanya
Kita dikuasai olehnya kita kecewa dan patah hati tapi tetap mencintainya setengah mati
Sungguh miris....
Pikirkan lebih dalam lagi
Benarkah lidahmu berkata cinta hanya dipersembahkan kepada tuhan semata
Sedangkan seluruh hidupmu kamu persembahkan untuk dunia
Mereka yang mengagungkan tuhan lebih dari semua unsur materi yang ada
Tidak akan pernah kecewa terhadap dunia
Kesabaran mereka tak terbatas
Back to topik "Tuhan telah mati"
Filsuf lain, Jean Paul Sartre dengan sangat optimis membuang Tuhan tanpa banyak argumentasi. Menurutnya, kematian Tuhan adalah fakta yg tidak perlu dipertanyakan, dan manusia dapat menjadi Tuhan atau Tuan bagi dirinya sendiri. Manusia bebas untuk memilih nilai-nilai apapun untuk dianutnya. Walau demikian, Sartre meyakini bahwa “kita tidak pernah bisa memilih kejahatan; apa yg kita pilih selalu merupakan kebaikan”. Sartre percaya bahwa manusia bebas tidak akan ngawur. Ia yg bebas akan dengan sendirinya bertanggung jawab. Manusia adalah legislator dan eksekutor untuk proyek bagi dirinya sendiri.
Menurut saya Sartre lebih to the point. Seakan dia berkata begini, “Tuhan itu tidak ada. Jadi tidak perlu dibahas!”. Sartre ini menurut saya orangnya sangat optimis dan selalu berfikir positif sekali dengan mengatakan bahwa manusia bebas pasti memilih kebaikan dan tidak akan ngawur.
Menurut saya pada dasarnya manusia itu pasti ada kehendak & keinginan untuk berbuat jahat di waktu-waktu tertentu dan kepada orang-orang tertentu. Untuk meredam keinginan jahat tersebut, dengan demikian manusia memerlukan teladan yg dapat dijadikan panutan, memberikan nasehat, dan memberikan nilai-nilai. Moralitas semacam itu salah satunya ditemukan dalam doktrin agama. Di mana semua jenis agama berupaya untuk mengantarkan umatnya menuju manusia yg lebih baik.
Lalu bagaimana manusia bebas (tanpa Tuhan) dapat memilih nilai-nilai yang baik tanpa ada satu pun yg mengajarkan atau memberitahukannya?
Nietzsche menulis, “terhadap kabar bahwa Tuhan yg kuno sudah mati, kita, para filsuf yg lain, para roh bebas yg lain, kita merasa disentuh oleh berkas-berkas sinar fajar. Di depan kabar itu, hati kita dilimpahi rasa syukur, ketakjuban, isyarat, dan penantian.”
Dalam syair diatas seakan mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk akhirnya diabaikan. Lewat kutipan syair ini, Nietzsche seakan ingin menekankan bahwa Tuhan tidak pernah melakukan apapun dalam hidup manusia. Tuhan tidak pernah menolong, karena sosoknya tidak ada. Tuhan tidak pernah memberi, karena manusialah yg tetap harus berjuang mendapatkannya. Tuhan tidak pernah mengasihi, karena manusia tidak dapat merasakan sentuhannya.
Tulisan ini bisa diterima oleh pembaca ataupun menolaknya
Tetapi yang pasti ada 2 yang tak akan pernah puas yaitu pencinta dunia dan pencinta pengetahuan
Selamat membaca kawan
Aku menulis maka aku ada
~SANG PENAKLUK~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar