Pengikut

Selasa, 23 Juni 2020

PEREMPUAN PEMIKIR KRITIS

hari ini aku kembali dipertemukan kembali dengan lastri, setelah sekian lama tak dipertemukan. 
Saya sangat senang sekali ketika berbicara dengannya. Mau ngomong apapun dia bisa menjadi pendengar bahkan diapun akan langsung ngasih saran yang sangat bijak. 
Hari ini saya mencoba menanyakan tentang perihal negara. 
Negara itu apasih? Kata saya
Diapun langsung memulai cerita. 
Negara yang pada hakikatnya merupakan tempat lahir, tumbuh, semai, dan kembalinya tatanan yang memandu sebuah realita masyarakat, kini seakan hanya menjadi pasar hegemoni kekuasaan. apa mau dikata, kalau negara banyak menjadi kedok terampuh para otokrat dalam menimbun serta mengembangkan segala bentuk upaya mendapatkan trisula dunia yang akrab dijabarkan sebagai harta, tahta, dan wanita. 

manusia yg selain menjadi makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. guna menyempurnakan harmoni hidup, manusia diberikan keleluasaan dalam menebarkan kemaslahatan nan humanis. hal ini berbalik ketika para otokrat menebar dan menanamkan nalar untung rugi di berbagai aspek kehidupan bernegara.  imbasnya kebahagiaan mencapai sebuah tujuan bersama benar benar sulit di iyakan oleh banyak orang. perbuatan nista dengan menghalalkan segala cara dilakukan demi satu indikasi dari uang untuk uang dan tentunya untuk manusia yg selain menjadi makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. guna menyempurnakan harmoni hidup, manusia diberikan keleluasaan dalam menebarkan kemaslahatan nan humanis. hal ini berbalik ketika para otokrat menebar dan menanamkan nalar untung rugi di berbagai aspek kehidupan bernegara.  imbasnya kebahagiaan mencapai sebuah tujuan bersama benar benar sulit di iyakan oleh banyak orang. perbuatan nista dg menghalalkan segala cara dilakukan demi satu indikasi dari uang untuk uang dan tentunya untuk uang. 

begitupula dengan tahta yang dapat dengan mudah didapatkan asal stimulan bernama uang ada di genggaman para orang orang otokrat. meski dengan mengusung misi yg hanya manis di mulut namun pahit di dalam eksekusinya, tentu benar benar mengeruk beberapa sumber keuangan, yang tentunya merugikan banyak orang dari berbagai kalangan. 

tak jauh dari keduanya, sudut pandang akan wanita pun mulai dipermainkan. pekerjaan berat dalam memainkan peran sosial oleh para wanita, memang menjadi daya magis tersendiri dalam mengangkat peran aktif wanita. namun, kembali lagi, nalar jahiliyah kontemporer yg mengasumsikan bahwa wanita sebagai alat pemuas para lelaki memang tak surut jua dari permukaan nalar yg berkembang sampai saat ini.

akhirnya pembicaraan kami selesai
Dalam benak saya timbul pertanyaan apakah pemipin sekarang selalu menghalalkan segala cara untuk menduduki jabatan?
 Mungkin memang benar dari mereka untuk mereka dan hanya mereka. 
Ah sudahlah nanti aku akan seperti orang munir lagi. 

Kopiku sudah sampai terakhir
aku pun pamit
Sampai bertemu lagi yah... 

Bersambung..... 

~J:H~
~SANG PENAKLUK~



Tidak ada komentar:

Posting Komentar