Pengikut

Minggu, 09 April 2023

HASRAT



Mungkin kita pernah sedikit tersadar, mengapa pola hidup kesenangan yang berlebihan tak kunjung juga kita lepaskan. Meskipun kita tahu bahwa itu tidak baik. Kita lebih memilih untuk berada dalam area kesenangan yang berlebih-lebihan meski itu memberi dampak buruk bagi diri. Terlalu seringnya kita berkomitmen pada diri sendiri untuk berhenti dari pola hidup ini, namun iblis lebih gigih dengan komitmennya untuk memanjakan hasrat manusia.

Iblis adalah makhluk paling konsisten dengan prinsipnya sejak dia diusir dari surga sampai hari ini. Ia dengan optimisme dan kegigihan yang luar biasa telah menjerumuskan umat manusia jauh masuk ke gerbang menuju gerbang neraka. Kesenangan yang berlebihan adalah salah satu cara ia membujuk, dan sekali kita masuk ke dalam perangkap jahat yang ia balut dengan manis itu, maka semakin sulit kita keluar. Akhirnya manusia hanya berputar di tempat yang sama, rantai setan.

Mungkin beberapa orang pernah merasakannya atau bahkan sementara mengalaminya. Perhatikanlah pribadi diri, apakah diri kita cenderung ingin memuaskan diri yang pada hakikatnya tidak akan pernah terpuaskan? Senantiasa mencari pemuas hasrat meski manusia itu tak akan pernah puas. Satu-satunya yang kita dapatkan adalah hanya hampir mendapatkan kepuasan. Rasa penasaran menguntit hati kita Ketika kita ingin mencapai kepuasan yang sama, demi memuaskan rasa penasaran itu manusia mau menukar moral mereka dengan duniawi yang fana. Ironisnya, yang diraih hanyalah hampir mencapai kepuasan yang malah lebih membesarkan rasa penasaran untuk mencapainya.

Dengan memupuk dendam dalam jiwa adalah salah satu Langkah awal untuk memulai rantai setan. Dendam hanya akan melahirkan dendam yang baru. Sejarah telah mencatat bagaimana bangsa Yahudi memupuk dendamnya sejak ia pertama kali diusir dari kaum Bani Israil yang lalu mewariskan dendam baru ke keturunannya hingga zaman ini.

Manusia lalu mengalami apa yang dikatakan Aristoteles, “emanasi semakin melemah Ketika jauh dari sumbernya”. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kewajiban terhadap sang pencipta mulai melupakan apa saja yang harus dilengkapi sebagai kewajiban. Sebab, iblis telah membangun satu dinding yang membuat kita lupa kepada siapa kita akan Kembali.


30 hari menulis buruk

day 14


Sabtu, 08 April 2023

KESENANGAN YANG BERLEBIHAN ADALAH AKAR DARI KEJAHATAN



Manusia merupakan mahkluk yang diciptakan penuh kelemahan. Salah satu kekurangan manusia sekaligus kelemahan terbesar yaitu hasrat. Bagaikan arus sungai deras yang selalu mendominasi hidup manusia, hasrat menguasai setiap tindakan, sikap dan cara manusia berpikir. Sejak awal manusia telah digulir kea rah jurang yang nyata saat peristiwa buah khuldi dan hingga hari ini peristiwa buah khuldi itu masih saja berulang kali terjadi. Bukan berarti manusia tidak pernah belajar dari pengalaman, manusia telah memahami kesalahan yang dilakukan nenek moyang mereka dan mereka dengan sadar menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam jurang yang sama. Bukan karena jurang yang terjal ini adalah sebuah ketakutan, karena tidak mungkin iblis membuat jebakan tanpa dibungkus secara manis dan nikmat.

Kecenderungan manusia untuk selalu memuaskan hasratnya ini disebut Hedonisme. Suatu pemahaman yang mengagungkan kebahagiaan dan kesenangan, kita dapat menyebut ini seperti sebuah wabah yang menyebar secara besar-besaran di panggung global. Tak pelak lagi seiring berkembangnya tuntutan zaman semakin terbaharui pula kebutuhan manusia. Jika ada orang yang mengatakan bahwa kita beruntung hidup di era di mana semuanya serba praktis dan mudah maka aku akan tersinggung karena menurutku, tepatnya ini adalah era di mana konsumerisme mengendalikan otak manusia demi memuaskan kebutuhan material individu yang lalu meracuni kehidupan banyak umat bahkan dengan berkedok ilmu pengetahuan dan teknologi. Semuanya semata-mata untuk saling memuaskan, dan tanpa disadari, manusia kehilangan hakikatnya sebagai manusia di muka bumi ini.

Seakan-akan tidak mungkin terelakan, bagaimana virus hedonism itu merasuk lalu merusak ideologi kita. Bagai tersihir, kita masuk ke zona yang dikutuk dan melupakan fitrah diri sebagai mahkluk yang harus melaksanakan kewajiban. Pada sebuah buku dikatakan, ada seorang biarawati di awal abad ke-19 di Prancis mengatakan “bahwa manusia diciptakan dengan pilihannya sendiri dan semua umat manusia berhak untuk bersenang-senang sesukanya dengan jaminan dia tidak boleh melupakan kewajibannya sebagai mahkluk sehingga tercipta keseimbangan tanpa adanya dominasi duniawi dan surgawi. Aku sangat menghargai argument perempuan ini karena mencerahkan sedikit kegelapan dalam kegalauanku.

Pada pandanganku, kesenangan yang berlebihan adalah akar dari kejahatan dan aku yakin semua orang setuju akan hal itu. Banyak hal buruk yang terlahir dari kesenangan yang berlebihan. Tamak, rakus, sombong dan lain sebagainya kian merasuk pribadi manusia dan merusak fitrahnya. Bila Tuhan ingin manusia menyembahnya kenapa harus diciptakan kenikmatan duniawi? Bukankah ini lah penyebab manusia murtad dari Tuhannya? Aku akan berspekulasi bahwa kenikmatan yang kau sediakan di dunia harusnya digunakan dengan bijaksana dan mungkin itulah esensinya. Untuk senantiasa terjaga dari sikap yang berlebih-lebihan.

Aku pun tidak muluk-muluk, aku adalah orang dengan segudang kebutuhan sekaligus membenci pola hidup yang berlebihan. Memang benar bahwa lawan paling besar manusia itu dirinya sendiri. Untuk memenangkan kompetisi dunia, aku harus menjinakan kebutuhan hasratku terlebih dahulu.  


30 hari menulis buruk.

day 13

Minggu, 02 April 2023

LUPA ADALAH LUKA BAGI INGATAN

 


Beberapa detik yang lalu, ingatan mengangkat wajahnya, menatap mata ku dengan mata seterang bulan. “lupa adalah luka”, aku mengulangnya dalam benak: “lupa adalah luka bagi ingatan. Suasana kemudian menjadi bisu Kembali. Pelan-pelan, suara loteng berderap kecil. Hujan akhirnya turun dan percakapan singkat tadi seolah-olah ikut menguap Bersama aroma tanah. Sekilas orkestrasi hujan dan dentimh loteng di luar kamar, aku melihat ada senyum tipis yang sedikit mekar di pipi ingatan. Aku masih tidak mengerti ia. Ingatan adalah mahkluk yang misterius.

Mahkluk misterius ini Bernama ingatan, entah kapan ia pertama kali muncul dalam otak. Ia seperti kelinci yang sekonyong-konyong keluar dari topi pesulap. Salah satu menerka usia ingatan adalah mencari tahu pengalaman pertama yang bisa ia terka Bersama ku.

Kadang-kadang ingatan bisa menjadi sangat tak tertebak. Ia bisa menjadi tumpukan kartu yang sudah terkocok sehingga kita tahu cerita apa yang akan muncul di sana. Ia bekerja dengan cara yang bahkan ia sendiri tak mengerti. Ada saat-saat di mana ingatan sangat sedih. Ia sangat tertutup kepada ku. Pernah aku menatap mata ingatan: warnanya temeram, sedikit lindap. Satu-satunya Bahasa yang bisa ingatan pahami dalam saat-saat seperti itu Cuma air mata. Barangkali kita memang perlu merayakan kesedihan dengan cara sejujur-jujurnya.

Belakangan ini, ingatan sudah baik-baik saja. Keramahan di pipinya sudah Kembali. “aku senang, kau sudah baik-baik saja sekarang. Pasti sulit melupakan hal-hal yang bahkan tak dapat kau bicara itu.

Memang sulit untuk menjadi baik-baik saja seperti sekarang, ingatan membalas tanpa menengok ku sama sekali. “tapi lebih sulit untuk melupakan.


30 hari menulis buruk.

day 12

Sabtu, 01 April 2023

WAKTU MERUPAKAN PANDAI BESI YANG BIJAKSANA

 


Waktu adalah pandai besi yang bijaksana, orang-orang kadang terpedaya oleh kebahagiaan palsu, yang akhirnya menghancurkan mereka sendiri.

Kala itu, aku pernah melepas sesuatu yang telah dua tahun menemani petualangan ku, melepas hal itu, seperti kehilangan salah satu organ tubuh ataupun kehilangan salah satu indera. Pernah pada suatu malam, kesepian merajam-rajam tanpa belas kesihan. Namun, begitulah kadang perlu kehilangan banyak hal untuk menyadari kita tidak butuh banyak dalam hidup.

Kala itu, aku belum tahu kalua kehilangan adalah rute kita menemukan sesuatu yang lebih penting daripada memiliki seluruh isi bumi. Aku menemukan diriku dengan wajah yang kanak-kanak seceria kuning pagi yang langsung memeluk kaki ku.

Aku pun sadar kalua menyukai seseorang kita menyukai diri sendiri adalah kesalahan yang tidak bisa dibiarkan. Aku adalah korban dari kecerobohan itu. Kehilangan lantas sepersis wajah orang tua berjenggot putih tebal, menjadi bijaksana dihadapan ku. Pelan-pelan ia bergradasi dari warna hitam jurang yang menjadi cahaya-cahaya kecil seperti kunang-kunang.

Bahagia itu ternyata kita yang buat. Tombolnya terdapat pada dalam diri kita yang perlu sedikit usaha dan ketelitian mencarinya. Terlalu lama menjadikan orang lain sebagai standar menjalani hidup membuat kita lupa kalua kekuatan dan keberanian selalu berasal dari dalam diri.

Memang tidak nyaman mencari tombol kebahagiaan itu. Ada banyak lapisan ego yang perlu kita damaikan, ada kegelapan yang mencolok mata, ada jurang Bahasa yang perlu didamaikan dalam diri. Aku menyebut proses ini sebagai kenalan dengan diri sendiri. Mengenal lebih dekat dan dekap anak kecil seceria kuning pagi yang tumbuh dalam diri. Membuat aku mahfum, “kehilangan dan menemukan itu ternyata beriringan, kita tidak dapat menerima yang terakhir tanpa menerima yang pertama.

Pada akhirnya, kesendirian adalah sebaik-baiknya rumah yang paling setia, seperti kata Nietzsche dalam sabda Zarathustra. Kesendirian adalah satu-satunya yang tak akan bisa menghianati kita bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun.

Aku percaya bahwa waktu adalah pandai besi yang bijaksana, ia akan berkali-kali mengizinkan kita dilahap api dan dipeluk sungai es, ia kan berkali-kali membuat kita terbentur, terbenur, lalu terbentuk menjadi manusia paling bahagia dengan kesendiriannya.

 

“O kesendirian, rumahku! Aku telah hidup liar terlalu lama di negeri-negeri asing untuk bisa Kembali padamu tanpa air mata!” (Sabda Zarathustra).


30 hari menulis buruk

Day 11