Akhir-akhir
ini jariku tak lagi berbenah. Suara-suara papan tik tidak lagi seperti di
masa-masa dahulu, ketika gairah dalam tungku dadaku bergetar. Ruang tempatku
tinggal, waktu yang berputar mengelilingiku, orang-orang yang aku pedulikan,
tak lagi memancarkan warna yang dapat ku tangkap dengan kata-kata.
Padahal,
dahulu kata-kata seperti kupu-kupu di tengah taman rahasia yang tersimpan rapi di
dalam benakku. Kini kok rasanya makin hambar saja. Aku memang masih menulis,
masih melahirkan kata-kata dalam batok kepalaku. Tapi, yang lahir hanya
kata-kata seperti menyalin apa yang ku lihat dan ku dengar.
Di
ujung tulisan ini, aku mengerti bahwa kesendirian dan kesunyian adalah dua hal
yang berbeda. Kesunyian merupakan solilokui paling hangat, percakapan dengan
diri sendiri. Juga merupakan proses bercengkrama batin. Tahun ini banyak
pelajaran yang didapat. Kehilangan, kesabaran yang setipis lubang jarum di
permulaan umut ke-23 tahun, semua demi kalimat penghiburan yang menjelma
sebagai ungkapan terima kasih kepada diri, karena sudah mau berjuang sampai
sini.
Terima
kasih, karena tidak putus asa setiap kali kesempatan untuk berputus asa itu
ada, untuk tidak menyerah ketika situasi tampaknya tidak memberi pilihan lain,
untuk terus mencari-cari cara agar tidak kehilangan daya bahagia. Tahun ini
seperti warna hujan asam dan arang awan. Tapi akhirnya belajar seratus musim
panas bisa tumbuh dalam dada bila mau percaya tidak ada yang bisa menerima kita
apa adanya selain diri sendiri.
Percayalah,
apa yang tidak bisa membunuhmu akan membuatmu lebih tangguh. Tuhan memberikan
tahun yang tak tertahankan sulitnya, tapi tidak memilih tunduk dan takluk. Atas
dedikasi seperti itu, aku berterima kasih berkali-kali.
Tetap sehat dan kuat, dan terima kasih sudah berjuang. Semoga selepas 22 Tahun pergi, kita sudah bersedia menjadi diri kita dalam versi yang paling kita sukai.
waktu adalah pandai besi yang adil, ia memahat sesuatu yang temporer lewat kenangan dan kamera. ingatan mencacah titik demi titik, membentuk garis yang tak kita izinkan patah karena interupsi. agar apa yang ditabung dalam benak kita, tidak selalu pecah air mata. setiap pembacaan akan masa lalu selalu mengandung ekspektasi ke masa depan: agar tradisi bisa umur panjang, lolos dari kemajuan yang sukar ditolak.
Mengulah hari kelahiran untuk ke -23 kalinya

