Pengikut

Minggu, 01 Januari 2023

Manusia Modern Mencari Jiwa

 Selamat datang di dunia tipu-tipu

Saya senang bermain-main dengan citra


manusia dan persepsi. Terlebih digenerasi Milenial, orang terdisplinkan buat menyukai foto yang dikonstruksi secara palsu. 

Seolah citra adalah komoditas. Dan seperti komoditas, semuanya bebas ditransaksikan. 

Kita saling menelusuri diri, dan memancak garis demarkasi: baik-buruk, benar-salah serta estetis-non estetis, semua tidak lebih dari prasangka yang ditarik dari alam bawah sadar terdasar, bahwa persepsi orang terhadap kita adalah segalanya. Lalu kita terjerumus dalam massifikasi, yang kata Kierkegaard adalah proses penyamarataan. Kita menyemaratakan satu pesona sempurna yang harus diikuti. Kalau tidak diikuti ya, barangkali hanya caci maki dan tatapan sinis yang tersisa dalam jejak-jejak foto kita.


Orang akhirnya minder menjadi diri sendiri. Semua hanya konstruksi sosial, dan barangkali ini adalah adalah kesempurnaan delusi dari yang punya kuasa. Percaya diri kemudian dimaknai secara sempit, "pede" Adalah proses mengasosiasikan diri dengan sang idola, "pede" adalah jargon yang diteriakan sekumpulan massa yang putus asa buat mengukuhkan identitas yang sesungguhnya bias.

Barangkali kita butuh menelaah kembali kredo yang sudah usang itu, "cogito ergo sum" (Aku berpikir maka aku ada". Namun di mana ada kuasa di situ ada pengetahuan baru akibat dari relasi kuasa. 

Terakhir meminjam perkataan Jean BaudrilBaudrillard dalam teorinya simulasi, ia berkata simulasi adalah penciptaan kenyataan melalui model konseptual atau sesuatu yang berhubungan dengan mitos yang tidak dapat dilihat kebenarannya dalam kenyataan. Model ini kemudian menjadi faktor yang menentukan pandangan kita tentang kenyataan. Segala yang dapat menarik minat manusia – seperti seni, rumah, kebutuhan rumah tangga, kecantikan, elitisme, eksklusifisme, popularitas, dan lainnya – ditayangkan oleh berbagai media dengan model-model yang ideal, disinilah batas antara simulasi atau ilusi dengan kenyataan bercampur baur sehingga menciptakan hyper-realitas dimana batas-batas antara kenyataan dan ilusi semakin memudar dan membias. Perempuan merupakan salah satu komoditas atau sasaran yang paling empuk dalam agenda setting rekayasa mindset publik ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar