Sejak zaman
dahulu , perempuan selalu menarik untuk diperdebatkan. Meminjam perkataan hegel
dia mengatakan bahwa dunia hari ini merupakan gema dari zaman yang terdahulu.
Didalam sebuah
agama, perempuan identik dengan tulang rusuknya laki-laki. Stigma ini
menandakan bahwa perempuan itu lemah dan harus dilindungi. Tetapi dalam bukunya
quraisy shihab membumingkan alquran dia mengatakan bahwa perempuan itu bukan
diciptakan dari tulang rusuknya laki-laki tetapi diciptakan dari sejenis adam
(tanah). Dan bukunya quraisy sihab ini membuka paradigm berfikir kita bahwa
pada hakekatnya perempuan itu tidak lemah dan tidak harus dilindungi.
Bergeser ke Yunani,
Plato filsuf yang lahir pada 427 SM, ia
menuliskan tentang perempuan : “ saya bersyukur kepada dewa-dewa atas delapan
berkat”, salah satu berkat itu tidak terlahir sebagai perempuan. Bahkan
muridnya pun mengatakan bahwa: “ perempuan terlahir sebagai lelaki yang tak
sempurna. Lahir sebagai perempuan hanya akan memberikan citra yang jelek
terhadap keluarga. Jika kita membaca buku-buku yang ditulis oleh merek, kita akan menemukan sifat
mereka yang begitu maskulin.
Dari Yunani kita
bergeser ke Afrika. Di afrika atau tepatnya di Ghana selatan kita akan
menemukan bangsa Ashanttes. Ketika
ditemukan pertama kali bangsa Ashanttes ini berjumlah 700.000 an orang bahkan
memiliki banyak keturunan yang berpendidikan. Bangsa Ashanttes dipimpin oleh
seorang Raja, ia memiliki hak istimewa atas banyak hal. Raja memiliki hak mewarisi seluruh kekayaan
warganya yang meninggal dunia. Ketika wanita sudah ditinggalkan istrinya, Raja
dengan leluasa bias mengangkat perempuan itu sebagai istrinya. Bahkan jika ada
yang mau kawin sama perempuan itu harus meminta izin sama Raja.
Diskriminasi
terhadap perempuan tetap berlanjut. Pada era zaman jahiliya, perempuan adalah mahluk yang paling
rendah. Setiap kali bayi perempuan lahir maka orang tuanya bebas membunuh atau mengubur
hidup-hidup terhadap anak itu. Sama seperti perkataan aristoteles tadi,bahwa
perempuan itu citra buruk terhadap keluarga. Di arab saat itu perempuan adalah
lambing dari rasa malu dan kelemahan bagi keluarganya. Lain lagi jika di Mesir jika
perempuan kedapatan keluar rumah makan akan dicambuk bahkan dipermalukan
didepan orang banyak. Makannya saat itu perempuan jika hendak mau keluar harus
memakai hijab (cadar).
Diskriminasi
perempuan berlanjut hingga sekarang, metode yang digunakan berbeda dengan
cara-cara seperti yang sudah dibahas diatas tadi. Pada masa kecil saja
permainan perempuan sudah dibedakan dengan laki-laki hal ini memperpanjang
penjajahan kapitalisme. Perempuan selalu dilambangkan dengan yang mewah-mewah.
Bahkan seiring berjalannya waktu laki-laki ketika menyatakan cinta kepada
perempuan menggunakan emas atau berlian.
Nah, dibulan
ramdhan ini lagi-lagi kapitalisme
menggunakan metode yang terbaru, jika meminjam teori Baudrillard tentang
simulasi hyperrealitas: “ hyperrealitas seratus persen terdapat dalam simulasi”
hyperrealitas tidak diproduksi,tetapi ia
selalu siap untuk direproduksi. Ia adalah sebuah simulasi yang nyata, lebih
cantik dari yang cantik, dan lebih elok dari yang elok. Ramdhan pada hakekatnya
untuk menyucikan jiwa tenyata hanya jadi ajang untuk belomba-lomba memamerkan
kekayaan. Para kaum kapitalis melakukan simulasi melalui media-media yang ada.
Dan anehnya perempuan selalu sebagai korban dari kaum kapitalis ini. Contohnya
seperti lomba yang diciptakan untuk memamerkan sebuah gaun atau mike up yang
indah. Dan secara tidak langsung perempuan dijajah untuk diwajibkan membeli
barang yang dipamerkan. Jika perempuan tidak membelinya maka perempuan itu
tidak akan mendapatkan pengakuan dari orang-orang bahwa dia cantik.
Pada hakekatnya
puasa itu untuk lebih mendekatkan diri kita kepada sang pencipta bukan untuk
saling ajang pamer barang-barang yang diproduksi oleh kapitalisme global.
Sebagai penutup
meminjam kata-kata sujiwo tejo “untuk memahami perempuan bukan tentang apa yang
diucapkannya, tetapi tentang sesuatu yang tak terucap.

Wow🤭
BalasHapus