Pengikut

Senin, 03 Mei 2021

DISKRIMINASI PEREMPUAN DAN BELANJA RAMADHAN



Sejak zaman dahulu , perempuan selalu menarik untuk diperdebatkan. Meminjam perkataan hegel dia mengatakan bahwa dunia hari ini merupakan gema dari zaman yang terdahulu.

Didalam sebuah agama, perempuan identik dengan tulang rusuknya laki-laki. Stigma ini menandakan bahwa perempuan itu lemah dan harus dilindungi. Tetapi dalam bukunya quraisy shihab membumingkan alquran dia mengatakan bahwa perempuan itu bukan diciptakan dari tulang rusuknya laki-laki tetapi diciptakan dari sejenis adam (tanah). Dan bukunya quraisy sihab ini membuka paradigm berfikir kita bahwa pada hakekatnya perempuan itu tidak lemah dan tidak harus dilindungi.

Bergeser ke Yunani, Plato  filsuf yang lahir pada 427 SM, ia menuliskan tentang perempuan : “ saya bersyukur kepada dewa-dewa atas delapan berkat”, salah satu berkat itu tidak terlahir sebagai perempuan. Bahkan muridnya pun mengatakan bahwa: “ perempuan terlahir sebagai lelaki yang tak sempurna. Lahir sebagai perempuan hanya akan memberikan citra yang jelek terhadap keluarga. Jika kita membaca buku-buku yang  ditulis oleh merek, kita akan menemukan sifat mereka yang begitu maskulin.

Dari Yunani kita bergeser ke Afrika. Di afrika atau tepatnya di Ghana selatan kita akan menemukan bangsa Ashanttes.  Ketika ditemukan pertama kali bangsa Ashanttes ini berjumlah 700.000 an orang bahkan memiliki banyak keturunan yang berpendidikan. Bangsa Ashanttes dipimpin oleh seorang Raja, ia memiliki hak istimewa atas banyak hal. Raja  memiliki hak mewarisi seluruh kekayaan warganya yang meninggal dunia. Ketika wanita sudah ditinggalkan istrinya, Raja dengan leluasa bias mengangkat perempuan itu sebagai istrinya. Bahkan jika ada yang mau kawin sama perempuan itu harus meminta izin sama Raja.

Diskriminasi terhadap perempuan tetap berlanjut. Pada era zaman  jahiliya, perempuan adalah mahluk yang paling rendah. Setiap kali bayi perempuan lahir maka orang tuanya bebas membunuh atau mengubur hidup-hidup terhadap anak itu. Sama seperti perkataan aristoteles tadi,bahwa perempuan itu citra buruk terhadap keluarga. Di arab saat itu perempuan adalah lambing dari rasa malu dan kelemahan bagi keluarganya. Lain lagi jika di Mesir jika perempuan kedapatan keluar rumah makan akan dicambuk bahkan dipermalukan didepan orang banyak. Makannya saat itu perempuan jika hendak mau keluar harus memakai hijab (cadar).

Diskriminasi perempuan berlanjut hingga sekarang, metode yang digunakan berbeda dengan cara-cara seperti yang sudah dibahas diatas tadi. Pada masa kecil saja permainan perempuan sudah dibedakan dengan laki-laki hal ini memperpanjang penjajahan kapitalisme. Perempuan selalu dilambangkan dengan yang mewah-mewah. Bahkan seiring berjalannya waktu laki-laki ketika menyatakan cinta kepada perempuan menggunakan emas atau berlian.

Nah, dibulan ramdhan ini lagi-lagi  kapitalisme menggunakan metode yang terbaru, jika meminjam teori Baudrillard tentang simulasi hyperrealitas: “ hyperrealitas seratus persen terdapat dalam simulasi” hyperrealitas tidak diproduksi,tetapi  ia selalu siap untuk direproduksi. Ia adalah sebuah simulasi yang nyata, lebih cantik dari yang cantik, dan lebih elok dari yang elok. Ramdhan pada hakekatnya untuk menyucikan jiwa tenyata hanya jadi ajang untuk belomba-lomba memamerkan kekayaan. Para kaum kapitalis melakukan simulasi melalui media-media yang ada. Dan anehnya perempuan selalu sebagai korban dari kaum kapitalis ini. Contohnya seperti lomba yang diciptakan untuk memamerkan sebuah gaun atau mike up yang indah. Dan secara tidak langsung perempuan dijajah untuk diwajibkan membeli barang yang dipamerkan. Jika perempuan tidak membelinya maka perempuan itu tidak akan mendapatkan pengakuan dari orang-orang bahwa dia cantik.

Pada hakekatnya puasa itu untuk lebih mendekatkan diri kita kepada sang pencipta bukan untuk saling ajang pamer barang-barang yang diproduksi oleh kapitalisme global.

 

Sebagai penutup meminjam kata-kata sujiwo tejo “untuk memahami perempuan bukan tentang apa yang diucapkannya, tetapi tentang sesuatu yang tak terucap.

1 komentar: