Aku telah
mencoba untuk hidup dengan sebaik mungkin, maka menjelang ajalku kini yang
kurasakan justru kegembiraan, bukan ketakutan (sabda gelandangan).
Akhir-akhir
ini aku sering melihat gelandangan yang makin hari makin banyak. Lalu siapa
yang patut disalahkan? Tentu saja pemerintah, mengapa? Karena pemerintahlah
yang harus kita salahkan akibat ketidak mampuan mereka mengurusi kemiskinan.
Dalam
kamus besar bahasa Indonesia, gelandangan diartikan sebagai orang yang tidak
memiliki tempat kediaman dan juga pekerjaan. Gelandangan juga dicitrakan
sebagai masyarakat terpinggirkan. Meminjam kata-kata Rhoma Irama dalam lagunya
“Gelandangan” diceritakan bahwa ratapan seorang tunawisma ( Gelandangan) yang
penuh dengan ketidakpastian seperti hidup menyusuri jalan, menjadikan langit
sebagai atap rumah dan tanah sebagai lantainya.
Menjadi
gelandangan adalah ketika manusia kehilangan harapan dan tujuan. Yang mereka
harapkan hanyalah memiliki keluarga seperti manusia-manusia normal pada
umumnya. Lantas untuk seorang gelandangan jangankan keluarga, orang-orang yang hanya
dia mau mengungkapkan keluh kesahnya saja tidak ada. Bahkan orang-orang yang berpapasan
dengannya cenderung mau peduli dengannya. Mungkin mati adalah cara terbaik
untuk seorang gelandangan sebab mereka semua orang-orang yang kehilangan
harapan.
Hidup
memang penuh dengan ketidakpastian, hak untuk hidup yang tenang di negara ini
hanya milik orang-orang yang berduit, sedangkan yang tidak berduit siap-siap
anda menjadi gelandangan. Bukankah negara ini negara yang kaya raya? Kok masih
banyak gelandangan yang berkeliaran? Sungguh luar biasa negara ini, meminjam
kata-kata Enau “negeri lucu”.
Orang-orang
yang berpapasan dengan gelandang cenderung jijik melihatnya. Jika saat itu
Nietzsche memproklamirkan kematian tuhan saat ini aku memproklamirkan
nilai-nilai kemanusiaan telah hilang. Orang-orang melihat bahwa menelantarkan
orang lain (gelandangan) itu bukan disebut kejahatan. Padahal jelas-jelas bahwa
itu adalah kejahatan yang terstruktur. Saya menganggap bahwa pertimbangan akalnya
logis tapi perasaannya beku. Makin modern kemanusiaan itu hilang, kemajuan pada
kenyataannya memperbudak manusia. Keunggulan teknologi hari ini membawa manusia
dalam petaka. Manusia mulai berkubam dalam masalah.
Pada
hakekatnya kita di wajibkan untuk menghormati setiap orang bahkan itu
gelandangan. Meminjam kata-kata Immanuel Khan pria paling disiplin dalam hidup ini
mengatakan bahwa “ manusia memiliki martabat dalam diri yang harus dihormati” mungkin seorang rasional yang kaku tapi
melalui dirinya akal sehat dijernihkan dan prinsip moral di kembangkan.
Manusia
hidup dengan tingkat kesadaran yang berurutan. Pada fase anak yang tumbuh
adalah eksplorasi. Keinginan untuk menikmati apa yang dianggap menyenangkan. Fase
remaja adalah transaksi. ketika kita melakukan sesuatu harus ada imbalannya.
Sedangkan fase kedewasaan adalah dimana tindakan kita Menjadi sebuah kebiasaan yang
bisa memberi makna. Nah, jika hari ini kemanusiaanmu hilang artinya kamu masih dalam fase anak-anak. Ada juga yang mau
menolong tapi selalu di foto atau dividio lalu di kirim ke sosial media itu
artinya kamu berada di fase remaja yang melakukan sesuatu harus ada imbalannya.
Imbalannya apa? Ya kamu hanya menginginkan pengakuan bahwa kamu peduli dengan
orang lain. Kalau kata Immanuel Khan Dinamai dengan “kesadaran”.
Bertindaklah
dengan mendudukan kemanusiaan, baik berlaku untuk diri sendiri, Maupun orang lain,
Senantiasa sebagai tujuan bukan sarana. Sebenarnya harapan itu bisa tumbuh kalau
kita dalam membangun hubungan apa saja selalu meletakan tujuan sebagai nilai
tertinggi bukan sarana. Harapan hancur karena kita sering memperlakukan manusia
lain sebagai sarana bukan tujuan. Kejujuran itu sepenuhnya baik karena
kejujuran itu satu-satunya bentuk komunikasi yang tidak memperlakukan orang
lain sebagai sarana. Terakhir meminjam kata-katanya Eric Fromm, ia mengatakan
bahwa “ manusia harus kembali untuk berani mengikat komitmen pada prinsip-prinsip
mendasar.
Julman
Hente
Sang
Penakluk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar