Pengikut

Sabtu, 29 Mei 2021

GELANDANGAN DAN HILANGNYA SEBUAH HARAPAN


 

 

Aku telah mencoba untuk hidup dengan sebaik mungkin, maka menjelang ajalku kini yang kurasakan justru kegembiraan, bukan ketakutan (sabda gelandangan).

 

Akhir-akhir ini aku sering melihat gelandangan yang makin hari makin banyak. Lalu siapa yang patut disalahkan? Tentu saja pemerintah, mengapa? Karena pemerintahlah yang harus kita salahkan akibat ketidak mampuan mereka mengurusi kemiskinan.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, gelandangan diartikan sebagai orang yang tidak memiliki tempat kediaman dan juga pekerjaan. Gelandangan juga dicitrakan sebagai masyarakat terpinggirkan. Meminjam kata-kata Rhoma Irama dalam lagunya “Gelandangan” diceritakan bahwa ratapan seorang tunawisma ( Gelandangan) yang penuh dengan ketidakpastian seperti hidup menyusuri jalan, menjadikan langit sebagai atap rumah dan tanah sebagai lantainya.

Menjadi gelandangan adalah ketika manusia kehilangan harapan dan tujuan. Yang mereka harapkan hanyalah memiliki keluarga seperti manusia-manusia normal pada umumnya. Lantas untuk seorang gelandangan jangankan keluarga, orang-orang yang hanya dia mau mengungkapkan keluh kesahnya saja tidak ada. Bahkan orang-orang yang berpapasan dengannya cenderung mau peduli dengannya. Mungkin mati adalah cara terbaik untuk seorang gelandangan sebab mereka semua orang-orang yang kehilangan harapan.

Hidup memang penuh dengan ketidakpastian, hak untuk hidup yang tenang di negara ini hanya milik orang-orang yang berduit, sedangkan yang tidak berduit siap-siap anda menjadi gelandangan. Bukankah negara ini negara yang kaya raya? Kok masih banyak gelandangan yang berkeliaran? Sungguh luar biasa negara ini, meminjam kata-kata Enau “negeri lucu”.

Orang-orang yang berpapasan dengan gelandang cenderung jijik melihatnya. Jika saat itu Nietzsche memproklamirkan kematian tuhan saat ini aku memproklamirkan nilai-nilai kemanusiaan telah hilang. Orang-orang melihat bahwa menelantarkan orang lain (gelandangan) itu bukan disebut kejahatan. Padahal jelas-jelas bahwa itu adalah kejahatan yang terstruktur. Saya menganggap bahwa pertimbangan akalnya logis tapi perasaannya beku. Makin modern kemanusiaan itu hilang, kemajuan pada kenyataannya memperbudak manusia. Keunggulan teknologi hari ini membawa manusia dalam petaka. Manusia mulai berkubam dalam masalah.

 

Pada hakekatnya kita di wajibkan untuk menghormati setiap orang bahkan itu gelandangan. Meminjam kata-kata Immanuel Khan pria paling disiplin dalam hidup ini mengatakan bahwa “ manusia memiliki martabat dalam diri yang harus dihormati”  mungkin seorang rasional yang kaku tapi melalui dirinya akal sehat dijernihkan dan prinsip moral di kembangkan.

Manusia hidup dengan tingkat kesadaran yang berurutan. Pada fase anak yang tumbuh adalah eksplorasi. Keinginan untuk menikmati apa yang dianggap menyenangkan. Fase remaja adalah transaksi. ketika kita melakukan sesuatu harus ada imbalannya. Sedangkan fase kedewasaan adalah dimana tindakan kita Menjadi sebuah kebiasaan yang bisa memberi makna. Nah, jika hari ini kemanusiaanmu hilang artinya kamu  masih dalam fase anak-anak. Ada juga yang mau menolong tapi selalu di foto atau dividio lalu di kirim ke sosial media itu artinya kamu berada di fase remaja yang melakukan sesuatu harus ada imbalannya. Imbalannya apa? Ya kamu hanya menginginkan pengakuan bahwa kamu peduli dengan orang lain. Kalau kata Immanuel Khan Dinamai dengan “kesadaran”.

Bertindaklah dengan mendudukan kemanusiaan, baik berlaku untuk diri sendiri, Maupun orang lain, Senantiasa sebagai tujuan bukan sarana. Sebenarnya harapan itu bisa tumbuh kalau kita dalam membangun hubungan apa saja selalu meletakan tujuan sebagai nilai tertinggi bukan sarana. Harapan hancur karena kita sering memperlakukan manusia lain sebagai sarana bukan tujuan. Kejujuran itu sepenuhnya baik karena kejujuran itu satu-satunya bentuk komunikasi yang tidak memperlakukan orang lain sebagai sarana. Terakhir meminjam kata-katanya Eric Fromm, ia mengatakan bahwa “ manusia harus kembali untuk berani  mengikat komitmen pada prinsip-prinsip mendasar.

 

 

Julman Hente

 

Sang Penakluk

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar