Iman adalah pilihan, siapapun yang mengatakannya sebaliknya, maka dia
sedang mencoba untuk mengubah kamu. (Reza Aslan)
Kita tentu mengetahui bahwa kredo itu adalah sebuah pilihan, tetapi kredo
kita dibentuk dari kita sejak kecil, dari pengetahuan awal kita yaitu orang tua.
Kita harus mengimani apa yang orang tua katakan. Bahkan animisme yang saya
pikir sudah lama tidak ada karena mungkin seperti atenisme menjadi tidak terkenal
setelah kematian pendirinya, sampai sekarang masih dipercaya oleh sebagaian
kelompok dan kamu ketika didalam ruang lingkup seperti itu diharuskan untuk
percaya seperti yang orang tua kamu percaya.
Ini adalah sebuah kesalahan logika berpikir, kita dituntut mempercayai
sesuatu yang kita tidak tau apa manfaatnya untuk kita. Dan anehnya kebenaran
selalu diukur dari banyaknya orang yang mempercayai itu. Kita memang hidup
dizaman yang namanya pasca kebenaran atau biasa kita sebut dengan posttruth.
Dimana pemikiran kita dituntut untuk sama dengan orang lain.
Kita mungkin pernah diceritakan tentang kisah Dewa Sumeria Enki dan
Atrahasis, tetapi dalam agama ibrahimik diceritakan Enki dan Atrahasis diganti
namanya. Seperti di dalam Alkitab Atrahasis diganti dengan Nuh, dan Enki diganti
dengan Yahweh. Dalam Alquran juga Nuh
sebagai Atrahasis dan Enki diganti Allah. Masing-masing dikerjakan ulang
tergantung siapa yang menceritakan tentunya untuk mencerminkan budaya dan agama
mereka. Dan kita harus mempercayai sesuatu yang diceritakan berulang-ulang itu
dan menganggap cerita Agama lain tidak dibenarkan, padahal sumbernya sama hanya
saja tergantung siapa yang menceritakan
Dalam buku Reza Aslan diceritakan tentang kisah Atrahasis dan Enki, saat itu sebelum manusia ada para Dewalah yang mengerjakan semua yang dikerjakan oleh manusia saat ini seperti menggeruk rawa membajak sawah tetapi dewa-dewa saat itu mengatakan bahwa pekerjaan mereka terlalu berat, pergilah mereka kepada dewa yang diagungkan yang bernama Enlil, Enlil adalah dewa penasehat dalam cerita sumeria. ini mungkin bisa disebut dengan pemberontakan sebab mereka harus melakukan tugas yang tak seharusnya mereka lakukan, perdebatan pannjang antara para dewa. kemudian Enlil berkonsultasi dengan dewi rahim kemudian dengan bantuan dewa bijak Enki dicampurlah tanah liat dengan darah dan menciptakan tujuh laki-laki dan tujuh perempuan kemudian mereka diturunkan dibumi.
seiring berjalannya waktu umat manusia terlalu berisik karena pertumbuhannya yang sangat cepat dan membuat para dewa marah. dan diputuskanlah untuk membanjiri umat manusia sehimgga para dewa bebas dari kebisingan. dan dibumi ada seorang pria yang sangat saleh bernama Atrahasis. dalam mimpinya Enki datang ke Atrahasis dan membuat suaranya bisa terdengar. Enki berkata " bongkar rumahmu dan bangun bahtera".
sepotong cerita dari sumeria itu bisa kita lihat di agama saat ini kita anut dengan orang berbeda.
Agama yang kita anut tergantung dari agama apa yang dianut oleh orang tua kita dan dari situ kredo kita dibentuk. Kita tidak bisa memilih sebab menyalahi norma-norma agama.
sampai kapan kita harus mengikuti logika para orang tua?
SANG PENAKLUK

Tidak ada komentar:
Posting Komentar