Pengikut

Jumat, 10 September 2021

IMAJINASI YANG MENIPU

 Terkadang kita dipermainkan oleh imajinasi, hanya menilai orang berdasarkan cara berpakaiannya.

Blaise Pascal

Dalam buku "peenses" Blaise Pascal mengatakan imajinasi merupakan sebuah kekuatan yang paling kuat dalam diri manusia. Sehingga dapat mengesampingkan penalaran manusia. Imajinasi juga dapat membuat kita terjerumus dalam kesalahan ataupun kebenaran. Padahal itu bukan entitas yang real. Seringkali imajinasi dapat membawa kita pada sisi kepalsuan atau kesalahan (falsehood). Tanpa kita sadari imajinasi menjadi salah satu dari sekian banyak sumber kesalahan manusia.

Tidak jarang kita mendefinisikan keadilan, keindahan, dan kebahagiaan dengan sesuatu yang palsu. Begitu juga, imajinasi melahirkan kepercayaan kepada orang lain tanpa ada alasannya.

Tak jarang kita memandang orang lain hanya dari pakaiannya, seperti kita sering sekali memandang orang yang bersorban sebagai ahli agama ataupun ahli kitab, dan memandang orang berpakaian lusuh sebagai gembel dan tak mengerti apa-apa. Orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang yang telah disesatkan oleh kekuatan imajinasinya dari pada penalaran, meskipun mereka memiliki penalaran yang baik dan kritis.


Berita hoax sering kali disebarkan karena kurangnya penalaran. Alih-alih berpikir mereka lebih menggunakan imajinasi mereka yang seringkali menjerumuskan ke sisi kesalahan.

Kita terlalu terpaku pada imajinasi-imajinasi yang terlihat rasional, tetapi ketika ditelaah justru sangat tidak masuk akal. Sampai sekarang imajinasi ini masih kita junjung. Bukan hanya perihal agama, dan sains tetapi kita sering kali menjunjujung tinggi budaya penyebaran hoax. Dan akhir-akhir ini selalu diberitakan bahwa di negara  ini darurat berita jujur. langkah untuk mencegah belum terealisasikan sampai sekarang. Dan mereka yang menghukum orang menyebabkan hoax itu tidak sepenuhnya dilakukan dari akarnya, tapi hanya mengambil Sempelnya saja, siapa yang dilihat pertama menyebarkan maka dia yang ditangkap, padahal ada dalang dibalik penyebaran berita bohong tadi.


Manusia memang selalu ditipu oleh imajinasinya sendiri.


~Sang Penakluk~


















Jumat, 03 September 2021

KEBENARAN YANG MENGGELISAHKAN


                     

Iman adalah pilihan, siapapun yang mengatakannya sebaliknya, maka dia sedang mencoba untuk mengubah kamu. (Reza Aslan)

 

Kita tentu mengetahui bahwa kredo itu adalah sebuah pilihan, tetapi kredo kita dibentuk dari kita sejak kecil, dari pengetahuan awal kita yaitu orang tua.

Kita harus mengimani apa yang orang tua katakan. Bahkan animisme yang saya pikir sudah lama tidak ada karena mungkin seperti atenisme menjadi tidak terkenal setelah kematian pendirinya, sampai sekarang masih dipercaya oleh sebagaian kelompok dan kamu ketika didalam ruang lingkup seperti itu diharuskan untuk percaya seperti yang orang tua kamu percaya.

 

Ini adalah sebuah kesalahan logika berpikir, kita dituntut mempercayai sesuatu yang kita tidak tau apa manfaatnya untuk kita. Dan anehnya kebenaran selalu diukur dari banyaknya orang yang mempercayai itu. Kita memang hidup dizaman yang namanya pasca kebenaran atau biasa kita sebut dengan posttruth.

Dimana pemikiran kita dituntut untuk sama dengan orang lain.

 

Kita mungkin pernah diceritakan tentang kisah Dewa Sumeria Enki dan Atrahasis, tetapi dalam agama ibrahimik diceritakan Enki dan Atrahasis diganti namanya. Seperti di dalam Alkitab Atrahasis diganti dengan Nuh, dan Enki diganti dengan  Yahweh. Dalam Alquran juga Nuh sebagai Atrahasis dan Enki diganti Allah. Masing-masing dikerjakan ulang tergantung siapa yang menceritakan tentunya untuk mencerminkan budaya dan agama mereka. Dan kita harus mempercayai sesuatu yang diceritakan berulang-ulang itu dan menganggap cerita Agama lain tidak dibenarkan, padahal sumbernya sama hanya saja tergantung siapa yang menceritakan

Dalam buku Reza Aslan diceritakan tentang kisah Atrahasis dan Enki, saat itu sebelum manusia ada para Dewalah yang mengerjakan semua yang dikerjakan oleh manusia saat ini seperti menggeruk rawa membajak sawah tetapi dewa-dewa saat itu mengatakan bahwa pekerjaan mereka terlalu berat, pergilah mereka kepada dewa yang diagungkan yang bernama Enlil, Enlil adalah dewa penasehat dalam cerita sumeria. ini mungkin bisa disebut dengan pemberontakan sebab mereka harus melakukan tugas yang tak seharusnya mereka lakukan, perdebatan pannjang antara para dewa. kemudian Enlil berkonsultasi dengan dewi rahim kemudian dengan bantuan dewa bijak Enki dicampurlah tanah liat dengan darah dan menciptakan tujuh laki-laki dan tujuh perempuan kemudian mereka diturunkan dibumi.

seiring berjalannya waktu umat manusia terlalu berisik karena pertumbuhannya yang sangat cepat dan membuat para dewa marah. dan diputuskanlah untuk membanjiri umat manusia sehimgga para dewa bebas dari kebisingan. dan dibumi ada seorang pria yang sangat saleh bernama  Atrahasis. dalam mimpinya Enki datang ke Atrahasis dan membuat suaranya bisa terdengar. Enki berkata " bongkar rumahmu dan bangun bahtera".

sepotong cerita dari sumeria itu bisa kita lihat di agama saat ini kita anut dengan orang berbeda.

Agama yang kita anut tergantung dari agama apa yang dianut oleh orang tua kita dan dari situ kredo kita dibentuk. Kita tidak bisa memilih sebab menyalahi norma-norma agama.

sampai kapan kita harus mengikuti logika para orang tua?


 

SANG PENAKLUK