Part 2
PEREMPUAN PENCINTA KIRI
dalam tulisan sebelumnya laras hanya membahas tentang Rosa luxembourg
Kali ini saya berkesempatan bertemu kembali dengan laras perempuan pencinta kiri.
Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini
saya langsung membuka pembicaraan
Laras! Kenapa sih kamu suka kiri?
ia langsung menjawab dengan spontan
"Sebab kiri itu seksi"
Saya langsung terkesimak mendengar jawabannya.
Kemudian laras melanjutkan pembicaraannya.
Ia pun mengangkat topik tentang buku yang pernah ia baca yaitu dunia sophie
Dalam buku dunia sophie, karya jostein gaarder, pada pembahasan romantisisme, disebutkan bahwa marx merupakan tokoh filsafat. Selain itu dia juga ahli dalam ilmu sosial dan ekonomi. Pada sebuah percakapan antara alberto knox dan sophie yang tengah berlangsung, diangkatlah sebuah pembahasan tentang marx dan kierkegaard, yang kedua-duanya dikatakan sama-sama berpijak pada filsafatnya hegel. Akan tetapi bedanya jikalau kierkegaard seorang eksistensialis, maka marx adalah seorang materialis dialektis. Dalam pembahasan tersebut, dipaparkan tentang marx, borjuis, proletar, komunis, kapitalis, dan revolusi.
Kemudian ia mengangkat kopi dan memakan kue
Lalu ia melanjutkan pembicaraannya
Kemudian sophie pun mulai penasaran dan tak sabar lagi mendengar cerita dari alberto selanjutnya tentang marx. Kemudian alberto memulai dengan menjelaskan keterkaitan hal tersebut pada bangunan parthenon di acropolis, melalui miniaturnya. Menurut alberto ada 3 tangga yang terdapat di bawah bangunan tersebut, yang kemudian dikaitkan dengan tatanan masyarakat, yang juga disebut oleh marx lewat analogi tersebut, bahwa ada 3 tingkatan dasar manusia.
Tingkatan yang pertama adalah apa yang disebut dengan syarat-syarat produksi masyarakat. Inilah instrumen dasar yang menurut marx adalah sebuah keadaan alamiah tempat dimana masyarakat tinggal, dan bahan dasar apa yang mungkin ada dan dikembangkan pada wilayahnya tersebut. Dan disanalah nampak kebudayaan apa yang berkembang pada masyatrakat tersebut, dan bagaimana hakikat masyarakat tersebut nampak dan diketahui.
Tingkatan yang kedua adalah sarana produksi masyarakat. Dimana adanya alat, perlengkapan dan berbagai fasilitas untuk mengelola bahan-bahan mentah yang ditemukan pada suatu wilayah tertentu.
Tingkatan selanjutnya adalah mereka yang memiliki pengelolaan kedua tingkatan tersebut. Mereka mampu mengelola, mempekerjakan, dan mengambil segala kebijakan yang ada.
Marx percaya, semua tingkatan masyarakat tersebut akan bergantung pada cara pengelolaan bahan-bahan produksi untuk keberhasilan sebuah nilai baru yang dihasilkan darinya. Dan kemudian marxpun percaya pada setiap proses dan tahap akan terjadi pertentangan pada suatu interaksi tersebut antara dua kelas masyarakat.
Dalam penggambaranya, hal itu akan selalu muncul. Seperti pada masa yunani kuno, perselisihan antara warga negara bebas, dan budak. Kemudian para tuan tanah feodal dengan para pekerja. Dan pada masa marx yang terjadi adalah pertentangan antara kaum borjuis (pemilik modal), dengan kaum proletar (pekerja). Yang terakhir tersebut, terjadi antara mereka yang memiliki modal, dengan mereka yang tidak memiliki. Karena mereka pemilik modal tidak mau menyerahkan kekuasaanya dengan serta-merta, maka menurut marx cara yang tepat adalah dengan cara revolusi.
Pada penjelasan alberto tentang marx, juga disebutkan pada masanya, marx sering mengamati para pekerja, dan kehidupan pekerjaannya. Menurut mark pada masanya, mereka para pekerja tidak lain hanya merupakan seoran budak kapitalis saja. Bagaimana tidak, ketika mereka dipekerjakan 12 jam, dengan upah yang tidak seberapa. Bahkan menurut marx ada sebuah arus kronologis yang dapat dijelaskan tentang hal tersebut yang kemudian kerap disebuat oleh marx sebagai “pemerasan”. Ketika perusahaan sudah mengapatkan bahan mentah yang cukup, serta ditunjang dengan sebuah fasilitas yang memadahi, maka pengelolaan tinggal hanya menunggu jalannya produksi saja. Dalam menjalankan kegiatan produksinya, mereka dibantu oleh para kaum pekerja. Lalu ketika hasil produksi meningkat, dan bersamaan dengan itu hasil penjualanpun meningkat, maka akan semakin banyak yang akan mereka terima dari hasil produksi dan penjualan tersebut. Disinilah menurut marx pemerasan akan mulai muncul, dimana ketika nilai tukar atas penjualan yang semakin meningkat, namun dibarengi denga keinginan lain untuk menginvestasikan kekayaan lewat nilai tukar tersebut. Agar semua sama-sama berjalan maju dan mulus, maka yang pertama dilakukan menurut marx pada saat itu adalah, nilai upah para pekerja harus dikurangi, agar nilai tukar yang didapatkan tidak terlalu terkuras banyak, dan hasil pengurangan tersebut disebut sebagai keuntungan.
Dengan keuntungan tersebut, diinvestasikanlah dalam bentuk modernisasi alat produksi. Dari alat-alat yang masih rumit, diganti dengan alat-alat yang modern. Akan etapi imbasnya adalah, para pekerja sedikit demi sedikit mulai berkurang. Karena semakin membaiknya alat produksi, semakin memudahkan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh banyak orang, kini tidak lagi membutuhkan banyak pekerja. Masalah bagi para pekerjapun semakin banyak dan mulai bertambah rumit. Mereka para pekerja bergulat di tengah-tengah himpitan ekonomi, dengan gaji yang tidak sepadan apabila dibandingkan dengan waktu bekerjanya yang memakan waktu 12 jam. Pemecatan dan pengurangan pekerjapun berdampak pada bertambahnya populasi pengangguran. Akan tetapi sang pengelola akan terus mendapatkan kekayaan demi kekayaannya yang mulai ditumpuk pada saku mereka. Tidak sedikit, pemberontakan para pekerja yang terjadi terhadap para pengelola tersebut. Dan kemudian, seiring berjalannya waktu, mereka mengambil jalan untuk merubah kehidupan mereka, yaitu dengan memiliki dan mencari bahan mentah dengan mandiri, menggunakan fasilitas pengelolaan mereka sendiri, dan mengelolanya sendiri, serta menempatkan mereka sebagai pekerjanya dengan kadar kemampuan dan kemauan mereka sendiri.
Jika kita tarik ke masa sekarang, di indonesia khususnya, maka hal inipun bukannya tidak berlangsung, akan tetapi bahkan hal ini sudah berlangsung sejak lama sejak datangnya para penjajah ke indonesia. Mereka mempekerjakan pribumi, menindas, dan bertindak semena-mena. Dengan pemaksaan, tenaga dan kebebasan mereka diperas, dan dikesampingkan hak-haknya. Apalagi dimasa perindustrian saat ini, dimana mereka para pekerja, diperlakukan bukan selayaknya manusia seutuhnya, namun mereka diperdaya dengan uang sebagai bayaran atas harga diri mereka. Seolah-olah, mereka hanya dijadikan pemuas ego para elit, untuk menumpuk kekayaan mereka, dan para pekerja menjadi robot industrialisai yang mencekam segala yang mereka tinggalkan demi kebutuhan ekonomi mereka. Kebudayaan, ilmu, dan pengetahuan seakan-akan hanya menjadi alat tukar dengan sebuah rupiah, dolar, bahkan poundsterling. Mereka mengabdi pada sebuah borjuis moderen, dan meninggalhan kebudayaan, dan nilai nilai luhur yang menjadi identitas mereka yang merdeka dan bebas mengeksplorasikan dan mengembangkan minat mereka atas pengetahuan untuk menjadi perubahan kemajuan sebuah bangsa.
Manusia bukanlah hamba rupiah, apalagi boneka para borjuis modern. Mereka bertuhan yang satu, dan hanya kepadanya mereka membaktikan dan mengabdikan kehidupannya. Ilmu adalah sumber perubahan, layaknya alat revolusi, yang digencarkan oleh marx. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, agar berkembang pada arah yang lebih baik, bukan merobotkan manusia, untuk sekedar menukarkan keringat dan ilmunya untuk sepeser rupiah.
Semua bergantung pada bagaimana manusia itu sendiri merespon kehidupan nya, setiap individu manusiapun adalah anak pada setiap zamannya. Maka janganlah terbawa arus dengan suasana zamanmu nak, namun bertemanlah denga perubahan zaman, dan responlah dengan bijak.
“Langit berbintang diatasku, dan hukum moral di dalam diriku.”
Hari mulai sore
Dan kopiku sudah sampai ke ampasnya
Wah udah sore ya aku mau balik ke rumah dulu" Kata aku
Aku pun pamit
Bersambung
Salam pemikir kiri
~J:H~
SANG PENAKLUK

Tidak ada komentar:
Posting Komentar