Makassar adalah nama umum untuk menyebut persekutuan antara dua kerajaan yaitu Gowa dan Talloq. Konfederasi ini terdiri dari negeri-negeri yang silih berganti berebut kuasa. Persetujuan dicapai dengan pembagian kekuasaan: Keturunan Gowa sebagai Raja sedangkan keturunan Talloq sebagai Mangkubumi alias perdana menteri.
Kejayaannya disumbang paling tidak dua hal: keberhasilannya sebagai pelabuhan utama di Sulawesi dan surplus beras—bahkan menjadi pesaing Jawa dalam produksi beras untuk suplai kawasan Timur. Kemakmurannya dimanfaatkan untuk membangun bandar dan perdagangan serta memperkuat sistem pertahanan.
1300-an Raja pertama Gowa Tomanurung, dipercaya titisan dewata, mempersatukan negeri-negeri dalam sebuah konfederasi. Namun perpecahan tidak terhindarkan sepeninggalannya
1511-1548 Masa pemerintahan Raja Gowa ke-9 Tumapaqrisiq Kolonna. Pada masa inilah Daeng Pamette menciptakan aksara Makassar yang disebut lontaraq. Diduga berasal dari huruf Sansekerta yang ditulis di atas daun lontar.
1532 Kerajaan Makassar jalin kerja sama dengan Portugis. Izinkan bangun loji.
Aksara lontaraq dipakai untuk menulis epos dahsyat seperti La Galigo sampai dengan jimat! Sureq La Galigo adalah epos penciptaan jagad suku-suku di Sulawesi berkisah mengenai asal-usul manusia sampai dengan petualangan pelaut ulung nan gagah Sawerigading dan anaknya yang bernama I La Galigo. Tebalnya: 6000 halaman!
Nggak heran karya ini dianggap sebagai karya sastra terbesar. Adapun soal jimat, Museum Nasional Indonesia juga punya koleksi anggun dan antik ini. Biasanya jimat bertuliskan lontaraq ini disimpan di dalam saku busana atau kantong kecil agar si empunya terbebas dari aneka bala.
1511 Portugis menaklukkan Malaka. Pedagang-pedagang muslim memindahkan persinggahan dagang mereka, membuat bandar-bandar ramai yang baru semisal Aceh, Banten, Sunda Kalapa, dan... Makassar!
1547-1565 Raja Tu'nipalangga Ulaweng (Raja Gowa X), taklukkan Soppeng, Maros, Wajo, Panaikang, Bulukumba. Benteng diperkuat dengan batu untuk pertama kalinya. Mesiu dan persenjataan diproduksi. Teknik metalurgi disempurnakan untuk mencetak emas dan perak.
1540-an Portugis tiba, coba sebarkan agama Katolik, Namun tradisi pra-Islam, dipimpin oleh pendeta transgender disebut Bissu cukup kuat. Menyerah, Portugis alihkan fokus menyebarkan agama jadi misi perdagangan.
1559 Makassar mulai ekspor rempah-rempah ke Malaka.
1565-1590 Karaeng Tunijallo memulai penulisan kronik. Keris mulai dibuat dan diplomasi dilancarkan dengan massif. Kerajaan bersahabat dengan raja-raja Johor, Malaka, Pahang, Blambangan, Patani, Banjar, dan Ternate. Saudagar-saudagar asing diberikan kebebasan menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya.
1590-1593 Masa kuasa Raja Tunipasulu. Singkat. Tapi di masa inilah senjata api dipergunakan bersama dengan pedang-pedang yang panjang dalam peperangan.
Makassar yang kian riuh bandarnya dengan kebijakan perdagangan laut bebas. Siapa pun dapat berdagang. Kata Sultan Alauddin:
"Tuhan telah menciptakan bumi dan lautan, bumi telah dibagi-bagikan antara manusia dan lautan diberikan secara umum. Tidak pernah terdengar bahwa pelayaran di lautan dilarang bagi setiap orang. Apabila engkau melakukan itu, maka berarti engkau merampas roti dari mulut. Saya seorang raja yang miskin,"
Makassar bersemi dengan pengetahuan dan perdagangan. Antara 1600-1654 inilah koin-koin dicetak, armada laut disempurnakan, swasembada beras tercapai, Islam diadopsi, dan kontak dengan seluruh dunia dijalin.
Elitenya haus dengan pengetahuan sembari mempertahankan laut bebas yang menjadi dasar kebijakan kerajaan. Sebuah hal yang dibenci si VOC yang monopolistik. Tapi di masa ini ekonomi semakin sulit.
1605 Perdana Menteri Kerajaan Talloq Karaeng Moatoaya masuk Islam. Mengajak kemenakannya, Raja Gowa, kelak bernama Sultan Alauddin, masuk Islam juga.
1608-1611 Karaeng Matoaya pimpin Makassar menghela perang Penaklukan Islam untuk sebarkan Islam ke seluruh Jazirah Sulawesi. Taklukkan Soppeng, Wajo dan rival tangguh yang kelak menjadi duri dalam pemerintahannya: Bone. Keluarga kerajaan taklukan diboyong ke Gowa menjadi pekerja kasar. Termasuk di antara keluarga yang terhina itu: Arung Palakka, si Pangeran Bone.
1593-1637 Perdana Menteri, arsitek agung Makassar dari kerajaan Talloq, Karaeng Matoaya adalah orang pertama yang membuat mata uang emas yang disebut dinara (atau jinggara) dan mata uang dari timah putih. Mata uang Makassar lebih besar 4 kali daripada koin Aceh.
1609 VOC dirikan pos dagang di Sulawesi Selatan.
1613 Inggris dirikan loji di Makassar. Sultan meminta mereka beri ganti rugi untuk pohon kelapa yang ditebang kepada para penghuni. Tapi nilai tanah dan rumah tidak dihitung. Inggris adalah sumber utama sistem persenjataan Makassar, selain tekstil India yang bagus-bagus itu.
1615 Gowa beralisansi dengan Ternate dan Hitu. Lancarkan perang terbatas dengan VOC demi kebebasan berdagang di timur Nusantara
1615-1620 Makassar berhasil menimbun 2422 pucuk senajata pada tahun 1615, mulai memproduksi bedilnya sendiri pada tahun 1620-an. Barangkali dengan bantuan orang-orang Portugis. Setelah dikalahkan Belanda pada 1660-an seni membuat bedil menyebar. Banyak pelarian Makassar menjadi tentara bayaran dan membawa seni perbedilan ke Jawa, Kalimantan, Sumatera, dll.
Terdapat ribuan pedagang Melayu menetap di Makassar. 600 di antaranya ikut berlayar sampai ke Maluku mencari rempah.
Sejak permulaan abad ke-15 bangsa Bugis-Makassar telah terkenal sebagai pelaut yang ulung. Telah berkelana mulai dari Selat Malaka sampai dengan Afrika, dari Papua hingga pinggiran Australia.
Si Galileo dari Makassar. Ilmuwan besar Makassar, terampil berbahasa Latin dan Spanyol serta Pirtugis. Putra perdana menteri Karaeng Matoaya ini menjadi perdana menteri sekaligus penasehat utama Sultan Malikussaid (1605-1653)
Dia membangun sebuah sebuah perpustakaan besar. Lengkap dengan koleksi berbagai buku dan atlas Eropa. Saking terpesonanya dengan ilmu bumi dia juga memesan teropong bintang dan globe berdiameter empat meter! Dia adalah Karaeng Pattingalloang
1641 VOC taklukkan Portugis di Malaka.
1641-1646 Perlawanan Hitu-Muslim terhadap VOC di Maluku pecah. Makassar juga ikut membantu.
1644 Bone melawan Gowa! Pada pertempuran Passempe yang dahsyat, Bone akhirnya kalah.
1653—1669 Sultan Hasanuddin berkuasa. Di masa ini, Mataram dan Makassar bangun aliansi, bertukar utusan untuk hadapi VOC.
Bandar Makassar yang semula pelabuhan paling bebas di abad ke-17 semakin menjengkelkan para pedagang asing. Keistimewaan mulai diberikan kepada kapal-kapal berbendera kerajaan. Orang Inggris mengeluh “Raja-raja ini telah menjadi pedagang tidak logis, dan menetapkan harga-harga barang,”
1656 Cengkeh semakin langka di pasar. Namun Makassar masih menjadi bagian penting perdagang antarbenua dengan produk andalan: tekstil India ke Manila dan China serta seluruh bagian TImur Nusantara. Bandar ini juga masih memperdagangkan komoditas primadona logam dan sutera dari China, perak dari Spanyol-Amerika, dan lada dari Sumatera dan Kalimantan.
Bandar niaga Makassar menimbun sejumlah komoditas seperti lilin dan tempurung penyu. Bandar ini juga menampung perdagangan budak dari berbagai daerah seperti Kalimantan, Filipina Selatan, Flores, Timor, Solor, Alor, dan Tanimbar.
Komoditas tersebut bersama dengan kayu cendana ditukarkan dengan komoditas tekstil dari India. Emas dikumpulkan dari banyak tempat dan diekspor ke Aceh. Porselin yang berasal dari Macao, Cina dan Kamboja dikirimkan ke pelabuhan-pelabuhan Aceh dan Kalimantan.
1660 Makassar sibuk memadamkan pemberontakan Bone dan Mandar.
VOC serang Makassar untuk pertama kali. Pertempuran hebat antara Kesultanan Makassar dibantu Portugis hadapi VOC. Kehabisan energi, dua pihak sepakat capai perjanjian dengan hasil utama: Portugis mesti angkat kaki dari Makassar.
Arung Palakka lahir sekitar tahun 1635 sebagai pangeran Bone. Sejak berumur 11 tahun Arung Palakka dan keluarganya dibawa sebagai sandera ke Istana Goa, menjadi pelayan Karaeng Pattinggalloang Di bawah asuhannya, Arung Palakka tumbuh menjadi pangeran yang mengesankan dalam olah otak maupun olahraga.
Pada 1660 Sultan Hasanuddin mewajibkan 10 ribu orang Bugis termasuk para bangsawannya untuk membangun kanal raksasa untuk mengalihkan arus sungai Jeneberang. Aksi ini menimbulkan penderitaan dan melukai harga diri kaum Bugis, termasuk pada Arung Palakka.
Perlawanan dirancang. Tapi Arung Palakka kalah. Diuber-uber pasukan Gowa, Arung Palakka lari ke Buton, di mana Sultan Buton menerimanya dengan sembunyi-sembunyi. Dia bersumpah untuk kembali membebaskan sukunya dan tak akan memotong rambutnya sebelum balas dendamnya terpenuhi.
Arung Palakka berhasil menjadikan sukunya sebagai kekuatan tandingan Makassar. Dia belajar seni membuat dan menggunakan senjata api langsung dari Belanda, ketika berperang di Sumatera dan Sulawesi. Setelah menang atas Makassar ia mengelilingi ibu kotanya di Bone dengan para pembuat bedil yang sangat tinggi mutunya.
1662 Kapal Belanda De Walvis yang berlayar dari Batavia menuju Maluku kandas di perairan Makassar. Dari kapal disita 16 pucuk meriam. Belanda menuntut Sultan Hassanuddin kembalikan. Permintaan ditolak.
1664 Kapal Belanda De leeuwin ditahan armada Gowa karena memasuki perairan Makassar. 40 awak kapal diangkut ke Benteng Sombaopu. Belanda mengklaim sebuah peti yang berisi uang perak sebanyak 1425 ringgit direbut Makassar.
Insiden ini diwarnai dengan pembunuhan 14 pedagang Belanda. Dua insiden ini segera menyulut perang terbesar yang dialami VOC, juga tercatat sebagai perang terbesar di Asia Tenggara: Perang Makassar!
1663 Setelah gagal melancarkan perlawanan terhadap Makassar, Arung Palakka hijrah ke Batavia. VOC menerimanya dengan tangan terbuka. Memberikannya kesempatan dan keterampilan dalam bidang militer serta memberikan tempat kepada Arung Palakka beserta pengikutnya di daerah Angke.
Belanda menyebut pasukan Arung Palakka sebagai To Angke alias orang-orang dari Angke. Sebabnya, ketika ditampung di Batavia, Belanda memberikan lahan di Angke untuk dihuni Arung Palakka dan kelompoknya.
Perselisihan panjang dengan Makassar--beriringan dengan hasrat monopoli yang tiada henti, membuat Belanda akhirnya ambil keputusan berperang all out hadapi Makassar. Perang ini adalah puncak dari ketegangan dan pertempuran berskala kecil yang telah menyeret dua pihak mulai dari tahun 1600-an.
Perang mungkin akan berakhir berbeda, jika tidak ada pasukan Arung Palakka yang gagah berani di medan pertempuran melawan prajurit Gowa.
1660. Kelar perang dan sepakati perjanjian dengan VOC, Sultan Hassanuddin kumpulkan para pejabat kerajaan dan sekutu-sekutunya untuk ambil sumpah setia. Benteng diperkuat dan putuskan bangun kanal sebagai bagian dari strategi pertahanan--Sultan sebal dan khawatir dengan VOC yang kuasai Benteng Panakukang dan bercokol di dalamnya. 10 ribu warga bugis termasuk para bangsawan dan anggota kerajaannya diambil untuk kerja paksa.
1666 VOC kirimkan pasukan ke Minangkabau di Pau. Tersebutlah di antara pasukan itu: Kapiten Jonker asal Ambon dan Arung Palakka si Pangeran Bone. Ekspedisi ini berakhir gemilang. Terkesan dengan hasil peperangan, dan keberanian Arung Palakka, VOC kirimkan pasukan pada tahun yang sama ke Makassar. Armada terdiri dari 21 kapal dengan hanya 600 tentara Belanda dan pasukan Ambon. Dipimpin Cornelis Speelman dengan kontingen Ambon di bawah kendali Kapten Jonker.
1667 Arung Palakka kalahkan pasukan Makassar yang berkekuatan jauh lebih besar—yang saat itu berupaya menyerang Buton. Sebagian besar armada Makassar—yang terdiri dari orang Bugis—membelot ke pihak Arung Palakka. Agustus Benteng Galesong jatuh. Oktober, giliran Benteng Barombong yang jatuh.
November 1667 Serangan berlanjut menusuk Makassar. Setelah memberikan perlawanan yang gigih, Makassar kalah. Sultan menandatangani perjanjian Bungaya yang memalukan.
Konsekuensinya: orang Eropa selain Belanda harus keluar dari Makassar, Makassar dipaksa membayar ganti kerugiam, sebagian besar wilayah kekuasaan Makassar diserahkan kepada VOC, dan VOC diizinkan menduduki Benteng Ujung Pandang. Speelman menamai benteng itu Fort Rotterdam sesuai dengan kota kelahirannya.
1668 Perang sempat terhenti akibat faktor cuaca. Hujan yang kelewat deras dan berjangkitnya wabah.
Juni 1669 Perdamaian tidak berlangsung lama. VOC kembali melancarkan serangan ke Benteng Sombaopu. 30 ribu peluru senapan ditembakkan, membuat terowongan di bawah temboknya untuk meledakkan sebagian dari tembok itu. Tapi yang paling membuat banyak kerugian adalah pasukan bugis yang dipimpin Arung Palakka.
Ketika rebut benteng utama Makassar, Belanda menyita meriam perunggu raksasa seberat lebih dari 5 ton. Dikenal dengan nama “Anak Makassar” dan 11 meriam besi yang beratnya sekitar 1 ton, 11 meriam besi berat sekitar 1 ton, dan 34 meriam perunggu kecil seberat 220 kg, dan 224 culver inserta senjata kecil yang beratnya sekitar 100 kg.
12 Juni 1669. Sombaopu jatuh! Menandai runtuhnya kekuasaan Kesultanan Makassar. Keluarga dan pengikut Sultan mengungsi ke pedalaman. Sementara yang lainnya memutuskan pergi ke luar dari Makassar. Sebagian di antaranya ada yang terlibat menjadi serdadu bayaran dan terlibat dalam aneka konflik dan perlawanan di Jawa, Sumatera, Kalimantan, bahkan Siam.
1672 Arung Palakka ditabalkan menjadi Raja Bugis yang menguasai Makassar. Tapi penaklukan jalan terus!
1671 -1684 Karaeng Bonto Marannu tiba di Banten pada tanggal 19 Agustus 1671 dengan 800 orang prajurit, menumpang tiga perahu dan satu kapal Jung besar.
1673-1674 Pasukan Makassar dipimpin Karaeng Galesong bersama ribuan pengikutnya tiba di Pajarakan Jawa Timur, daerah yang jadi sumber pertikaian antara orang Jawa, Bali, dan Madura. Pasukannya kelak bertemu dengan kontingen Makassar dari Banten dan bergabung dengan Trunojoyo, pangeran Madura yang melancarkan pemberontakan terhadap pemerintahan Mataram.
Pada 1675 pemberontakan mencapai puncaknya. Pasukan Makassar menjadi pasukan pionir, menyerbu kota-kota pelabuhan utama di Jawa Timur, termasuk Surabaya.
1664 - 1686 250 orang (pria, wanita dan anak-anak) tiba dari Makassar dan diberikan hak dan membangun komunitas perkampungan bersebelahan dengan orang-orang Melayu yang sudah lebih dulu menetap.
Pada 1686 kelompok di bawah pimpinan Daeng Mangalle ini dituduh melancarkan makar. Insiden tak terelakkan. Dua ratusan anggota kontingen Makassar ini melawan ribuan prajurit Siam, Prancis, dan Inggris dengan gagah berani sampai titik darah penghabisan.
1721-1722 Kelompok Bugis di Semenanjung Malaya terlibat konflik perebutan tahta di Kesultanan Johor-Riau. Pasca-konflik, orang-orang Bugis masuk ke dalam kekuasaan. Kekuasaan makin solid sampai Kesultanan terlibat perang melawan VOC pada 1755-1758 dan 1783-1784. Saat itu akhirnya Johor-Riau menyerah sebagai vassal Belanda.
Ekspansi dan penaklukan yang menjadi fondasi Kesultanan Makassar terbukti menjadi bumerang di masa yang akan datang. Kejayaan Makassar di bidang perdagangan pengetahuan (mereka satu-satunya suku di Nusantara yang melakukan tradisi penerjemahan kitab pengetahuan Eropa dalam bidang geografi dan navigasi) tak banyak membantu.
Arung Palakka si Raja Bugis membangun aliansi pragmatis dengan VOC membalaskan dendam kaumnya, yang akhirnya memporakporandakan Makassar pada 1669. Masa kepemimpinan Arung Palakka juga tak lebih baik. Kawasan itu masih bergolak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar