Pernakah
anda berfikir bahwa internet ini sudah mengambil alih haknya tuhan?
Sebelum
bernama “INTERNET” awalnya ia bernama “ARPANET”. Sekelompok akademisi yang didanai
pemerintah saat itu mengerjakan proyek berbagai komputer, mengirimkan pesan dari
komputer Host Sigma 7 Universitas California ke SDS 940 komputer induk di Stanford
Research Institute. Ini adalah pertama kalinya dua komputer berkomunikasi dari jarak
jauh, dan “ARPANET” lahir. Menjelang satu dekade dan sedikit penyesuaian kemudian
penelitian pemerintahan ini memiliki nama baru yaitu internet.
Pada
hakekatnya manusia adalah mahluk yang harus mempunyai sesuatu yang dipujanya atau
dalam bahasa agama ibrahimik Tuhan yang menciptakan bumi ini dan mengatur segala
sesuatu yang berada di dalamnya. Namun seiring berjalannya waktu, makna Tuhan itu
sendiri cenderung memudar. Meminjam perkataan Nietzsche yang memproklamirkan kematian
tuhan, ia mengatakan bahwa Tuhan telah mati dan manusialah yang membunuhnya. perkataan Nietzsche ini menurut saya terbukti terjadi
di era post truth ini. Manusia seakan akan menghamba kepada internet (medsos). Manusia
sekarang yang menghamba kepada maha data, jika mereka tidak update status sehari
saja dianggap mereka tidak ada didunia ini. Jika pada awalnya Descartes mengatakan
bahwa aku berfikir maka aku ada, diera abad ke-21 ini mereka mengatakan aku update
status maka aku ada. Tentu saja hal ini menjadi sesuatu yang berketergantungan terdahap
internet dan mereka akan menghamba kepada internet.
Pada
awalnya internet adalah proses berkomunikasi antara orang yang dekat dan yang jauh,
kini menjelma menjadi momok yang menakutkan bahkan menyaingi Tuhan. Semua doa-doa
tidak di lantunkan lagi di tempat ibadah yang seharusnya, melainkan di dunia yang
serba data ini (sosmed). Bahkan internet secara tidak langsung merampas data-data
pribadi kita yang sewaktu-waktu akan dipakai jika mereka memerlukannya.
Kejadian
sebelumnya terjadi pada saat pemilihan presiden Donal Trump melawan Hilary Clinton.
Data-data dari sosial media itu dipakai untuk kepentingan demokrasi saat itu dan
yang menanggung kerugian adalah kita sendiri. Tetapi sisi positifnya banyak juga
bisa membantu masyarakat dan negara terhadap perekonomiannya bahkan bisa membantu
jalannya demokrasi agar berjalan dengan baik.
Maknailah
internet dengan bijak, agar supaya tidak menghancurkan.
~SANG
PENAKLUK~
