Pengikut

Jumat, 09 Juli 2021

MENCARI MAKNA DIBALIK REALITAS



Pernakah anda berfikir bahwa internet ini sudah mengambil alih haknya tuhan?

Sebelum bernama “INTERNET” awalnya ia bernama “ARPANET”. Sekelompok akademisi yang didanai pemerintah saat itu mengerjakan proyek berbagai komputer, mengirimkan pesan dari komputer Host Sigma 7 Universitas California ke SDS 940 komputer induk di Stanford Research Institute. Ini adalah pertama kalinya dua komputer berkomunikasi dari jarak jauh, dan “ARPANET” lahir. Menjelang satu dekade dan sedikit penyesuaian kemudian penelitian pemerintahan ini memiliki nama baru yaitu internet.

Pada hakekatnya manusia adalah mahluk yang harus mempunyai sesuatu yang dipujanya atau dalam bahasa agama ibrahimik Tuhan yang menciptakan bumi ini dan mengatur segala sesuatu yang berada di dalamnya. Namun seiring berjalannya waktu, makna Tuhan itu sendiri cenderung memudar. Meminjam perkataan Nietzsche yang memproklamirkan kematian tuhan, ia mengatakan bahwa Tuhan telah mati dan manusialah yang membunuhnya.  perkataan Nietzsche ini menurut saya terbukti terjadi di era post truth ini. Manusia seakan akan menghamba kepada internet (medsos). Manusia sekarang yang menghamba kepada maha data, jika mereka tidak update status sehari saja dianggap mereka tidak ada didunia ini. Jika pada awalnya Descartes mengatakan bahwa aku berfikir maka aku ada, diera abad ke-21 ini mereka mengatakan aku update status maka aku ada. Tentu saja hal ini menjadi sesuatu yang berketergantungan terdahap internet dan mereka akan menghamba kepada internet.

Pada awalnya internet adalah proses berkomunikasi antara orang yang dekat dan yang jauh, kini menjelma menjadi momok yang menakutkan bahkan menyaingi Tuhan. Semua doa-doa tidak di lantunkan lagi di tempat ibadah yang seharusnya, melainkan di dunia yang serba data ini (sosmed). Bahkan internet secara tidak langsung merampas data-data pribadi kita yang sewaktu-waktu akan dipakai jika mereka memerlukannya.

Kejadian sebelumnya terjadi pada saat pemilihan presiden Donal Trump melawan Hilary Clinton. Data-data dari sosial media itu dipakai untuk kepentingan demokrasi saat itu dan yang menanggung kerugian adalah kita sendiri. Tetapi sisi positifnya banyak juga bisa membantu masyarakat dan negara terhadap perekonomiannya bahkan bisa membantu jalannya demokrasi agar berjalan dengan baik.

Maknailah internet dengan bijak, agar supaya tidak menghancurkan.

 

 

~SANG PENAKLUK~