Pengikut

Rabu, 10 Februari 2021

Budi yang disalah pahami


Laut tetap kaya takkan berkurang, cuma hati dan Budi manusia semakin dangkal dan miskin. ( Pramoedya Ananta Toer)

Sejak kecil kita selalu disuguhkan dengan kata Budi dan keluarganya. tetapi kita lupa akan makna Budi yang disampaikan. Yang kita pahami tentang Budi hanyalah namanya dan tanpa maknanya. padahal jika kita menelitik lebih dalam Budi itu berfilsafat. "setiap manusia dari kodratnya ingin tahu." Demikian kata Aristoteles. Budi pekerti adalah sebuah cara pikir dan perbuatan.
Manusia dari kodratnya merupakan mahluk berfikir, ingin mengenal, menggagas, dan segala sesuatu yang berpartisipasi dalam kehadirannya.

Filsafat berangkat dari ketidak tahuan atau keheranan. dalam sejarah filsafat Yunani, keheranan ini ditampilkan oleh Thales. Thales memikirkan asal-usul dari segala sesuatu yang ada. demikian Thales memiliki unsur dasar pemikirannya  yaitu air. aktivitas Thales ini disebut aktivitas berfilsafat karena berupa suatu pencarian rasional akal Budi sampai ke akar-akarnya.

Jauh sesudah Thales, Socrates akan menggeser perhatian dari pencarian rasional terhadap alam semesta ke seluk-beluk hidup manusia.
Socrates menggagas pengertian hakiki hidup manusia, hidup bersamanya, dan tujuan hidup manusia. wilayah-wilayah politik, etika, sastra, tata negara, bahkan Tuhan dengan demikian menjadi bidang pergulatan filsafat  sejauh bisa didekati akal Budi. makannya kata filsafat itu adalah cinta kebijaksanaan maka berkaitan dengan Budi pekerti.

diindonesia Budi sangat melekat dengan pelajaran sehari-hari, tetapi kita tidak pernah menangkap makna dari kata Budi itu.  Budi juga bersangkut paut dengan tingkah laku manusia. Jika kita ingin belajar filsafat peran yang paling penting adalah akal budi, karena setiap manusia dari kodratnya mempunyai desakan untuk mengenal, mencari tahu, dan mengejar pengetahuan.

dari proses mencari tahu, dan mengenal kita disebut dengan pencari kedalaman. karena kebenaran itu ada didalam kedalaman.
Maka dari itu puncak dari filsafat adalah bijaksana dan mengetahui bahwa kita tidak tau apa-apa. Banyak sekali kita pelajari tentang Budi, seharusnya kita merefleksikan kembali ingatan kita tentang Budi.

Aku berbudi maka aku ada
Refleksi di tahun 2021.

~Sang Penakluk~
~J:H~





Senin, 08 Februari 2021

Dari pemahaman sampai ke pengalaman


Memahami tanpa mengalami itu ceroboh, dan mengalami tanpa memahami itu sia-sia.
(Bukan jean piaget)

Kalian pasti pernah membaca atau pernah mendengar tentang teori Jean Piaget. 
Jean piaget lahir di Swiss pada tahun 1896 dan meninggalnya tahun 1980, ayahnya seorang profesor sejarah, dan ibunya sebagai ibu rumah tangga biasa. di usia 10 tahun dia sudah menerbitkan buku tentang burung gereja, tetapi burung gereja yang berwarna albino.

Dalam teori Jean Piaget Dia mengatakan bahwa " pengalaman mendahului pemahaman" maksutnya adalah kita tidak bisa memahami sesuatu tanpa kita mengalaminya. Contohnya adalah, orang yang tidak kuliah di-IAIN menganggap bahwa mahasiswa IAIN itu bisa mengaji semua (pemahaman), setelah mereka masuk ke IAIN ternyata tidak semua mahasiswa IAIN bisa mengaji (pengalaman).

Tetapi, jika kita mengkajinya bahwa, seharusnya pemahaman itu mendahului pengalaman. contohnya adalah korek bisa tercipta tanpa kita memahami dulu bentuk korek itu seperti apa. Jadi seharusnya pemahaman yang mendahului pengalaman.

Tetapi ke-dua itu tidak bisa di pisahkan. untuk bisa mencapai sesuatu tujuan, kita harus memahami dan mengalami agar supaya kita bisa memahami seseuatu hal yang baru.

Dalam teorinya Hegel itu disebut dengan dialektika. Dialektika menurut hegel adalah sesuatu yang dipertentangkan kemudian di-damaikan. maksudnya adalah kita harus memahami dulu, kemudian kita mengalami tentang pemahaman sebelumnya, dan kita mendapatkan pemahaman yang baru dari pengalaman sebelumnya, tanpa menghilangkan pemahaman yang sebelumnya. Atau disebut dengan tesis, antitesis, dan sintesis.

Dari pemahaman menuju pengalaman dan menuju ke-pemahaman yang baru, Manusia butuh mengembara, dan sifatnya manusia itu selalu butuh sesuatu untuk mengutuhkan dirinya.
Dari pemahaman itu kita akan bertemu dengan kata tanpa makna, maka tidak ada kebenaran apapun yang tinggal hanyalah kata tanpa makna. Tetapi menurut Deridda " makna secara inheren tidak ada dalam kata yang ada hanyalah permainan kata".

Manusia dibekali akal dan anggota badan untuk memahami dan mengalami. mana kala ia berhenti hidup dalam terang akal pikiran yang jernih dan sehat, ia menjalani hidup dengan meliburkan esensi kemanusiaan-nya. meski dengan atas nama apapun ia melakukannya.

~SANG PENAKLUK~










Sabtu, 06 Februari 2021

RESAH HMI DAN DUALISME YANG TERJADI


 HMI adalah organisasi mahasiswa tertua yang masih eksis sampai sekarang di-indonesia, pemrakarsa nya adalah kanda Lafran Pane beserta 14 teman lainnya.

Tepat pada tanggal 5 Februari 2021 kemarin HMI genap berumur 74 tahun, tentunya bukan umur yang begitu mudah lagi.

Tetapi dibalik kebahagiaan ulang tahunnya HMI ini masih saja ada ego yang selalu menghantui orang-orang didalamnya, sampai saat ini HMI (Dipo) masih  dualisme jabatan, tak hanya di pengurus besar (PB) tetapi sampai ke ranting-rantingnya (cabang) dan dualisme ini terus berlanjut sampai dengan sekarang.

Apakah organisasi tertua seperti HMI tidak bisa menyederhanakan persoalan seperti ini?

Memang benar ternyata semakin dewasanya seseorang maka akan semakin sulit menyederhanakan persoalan, Saya rasa kita perlu belajar dari anak kecil. Anak kecil ketika ada konflik didalam suatu permainan dengan cepatnya mereka akan berteman lagi tanpa ada musuhan.

Anak kecil dengan cepatnya menyederhanakan sebuah persoalan. Karena anak kecil cendrung menggunakan akal sosialisnya dari pada ego.

Ego (egocentrim) adalah ketidak mampuan seseorang membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan orang banyak.

Ketika ada orang seperti ini sebenarnya levelnya masih dibawah 2 tahun, maka dari itu sebenarnya kita harus membuka cara berfikir kita lagi agar tidak seperti anak dibawah umur.

Kemudian kurangnya kader-kader kritis, mereka mau hanya selalu di isi atau ditampung pengetahuan nya tanpa ada pembanding dari pengetahuan nya sendiri.

Kita ini terlalu banyak terpengaruh oleh lingkungan sekitar kita, akibatnya kurang kritisnya menghadapi suatu persoalan (acuh tak acuh)

Persoalan nilai di demo, apalagi soal jabatan, tetapi ketika Galang dana untuk korban bencana kemana? Padahal aksi yang paling mulia itu ketika kita angkat bicara terhadap kemanusiaan bukan jabatan.

Semoga organisasi tercintaku ini bisa kembali seperti sedia kala, seperti kanda Lafran pane membuatnya.

Selamat hari lahir Kanda Lafran pane 5 Februari 1922 dan organisasi HMI 5 Februari 1947


Yakusa

~SANG PENAKLUK~