Pengikut

Minggu, 15 November 2020

TRELOS

pada dasarnya seseorang yang gila adalah seseorang yang lahir dari kewarasaan.
Siapah sih yang ingin terlahir menjadi gila?
jawabannya manusia itu memang sudah terlahir gila hanya takaran gilanya yang berbeda-beda.
Saya akan menceritakan kisah trelos,
Kisah ini hanya cerita fiktiv walau artinya dalam bahasa Yunani itu "gila".
Jalan hidup trelos terasah begitu mudah dilalui.
Tak ada persoalan yang mesti diselesaikan sampai lelah. Tak pernah ada kebimbangan maupun ketakutan yang menghantui trelos.
Sebab semua itu telah melebur bersama khayalan-khayalan yang tak bisa dikekang.
Ya, dia gila. Kadang tertawa, kadang menangis, kadang menjerit, kadang diam. Seakan lupa semua rasa. Trelos mengikuti hidup lewat langkah kakinya.
Meski hidup dikepung Cacian, biarpun terpenjara dalam bangsal, hidup tetap berjalan seperti adanya. Toh orang-orang gila juga tidak merasa dikucilkan.

Trelos tentunya nggk terlahir langsung menjadi gila. Tentu awalnya memiliki kewarasan. Hidup seperti orang-orang normal pada umumnya. Bertingkah sewajarnya, berekspresi seperlunya.

Trelos awalnya memiliki keluarga hingga suatu kisah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ketika yang disebut manusia masih punya akal dan pikiran justru berbuat sewenang-wenang pada sesama manusia yang lain masih pantaskah sesama manusia mengatakan manusia lain gila?
Jika yang disebut manusia itu derajat nya paling tinggi dibanding mahluk lain. Masihkah manusia mahluk yang mulia?
Sedangkan kelakuannya tak ubahnya binatang yang melampiaskan nafsu.

Ketika trelos butuh tempat berlindung orang-orang disekitarnya yang mengaku waras justru mengusirnya. Menanggap dia tak beradab dari orang-orang yang mengejeknya. Mencela, mencaci dan memaki kelakuan trelos yang mereka anggap gila itu.

Orang-orang gila memang tak punya akal berbuat semaunya dan kehendaknya sendiri. Orang-orang waras pasti punya akal  namun kadang lupa meletakkan akal untuk sebuah moral.

Pada awalnya trelos tinggal di rumah sakit jiwa karena kondisi kejiwaannya.
Hidup trelos serasa terpenjara dalam jeruji besi. dan sampai suatu waktu seperti ada Wahyu yang masuk ketubuhnya ia sering meminta suster yang menjaganya untuk selalu membawakan buku-buku.
siang-malam ia sering membaca buku yang selalu dibawakan oleh suster penjaganya itu.
Akhirnya ia pun berfikir untuk keluar dari rumah sakit jiwa itu. Ia kemudia bersikap baik dan sudah tak jadi gila lagi. Dan usaha itu membuahkan hasil ia pun diijinkan untuk keluar dari yang menurut trelos penjara itu.
Hiruk pikuk kehidupan ia lewati tetapi ia tak henti-hentinya membaca buku.
Sampai suatu ketika ia membangun usahanya sendiri dan terbilang sukses dikotanya. Padahal ia tak sekolah.
Pada akhirnya kita memang tak butuh negara untuk hidup. Toh kita tetap hidup walau tak ada negara. Dan trelospun mengatakan sekolah itu penting, tetapi membaca buku jauh lebih penting. Membaca buku memang melahirkan kepintaran tetapi tidak dengan kecerdasan.


~Sang Penakluk~
   ~J:H~